Friday, January 10, 2014

Merapi

Koto Baru, Merapi











Ini pertualanganku bersama , bang ardi, ogik , eed, allif, ryan, randi, robby, beni, fikri dan reza.

       Kami akan berencana menaiki gunung merapi disumbar sana. Gunung dengan ketinggian 2870 m dibawa permukaan laut ini sungguh mengoda panoramanya.
        Malam itu kami tidur dikosan latansa, kecuali teman kami yang benama reza. Latansa adalah kosan dengan banyak kamar, terletak diantara bujur timu dan bujur selatan. Dilatansa, semua jenis manusia ada disana Seperti mengongong, mengeong, merayap, meraba, melata, merangkak, meloncat dan mundur. Aku lebih suka merayap aja."Spyderman"
        Ditempat itulah kami semua ngumpul malam itu, menghabiskan bermain domino, bercengkrama, bergelut ria, bernyanyi, menggongong, mengeong, merayap, dan terbang. cerita habis disini malam itu.
*
       Pagi paginya, kami bersiap berangkat menuju tujuan yang telah disepakati bersama. kami sudah berjanji bangun jam 5 subuh. Tapi biasalah MAHASISWA.
        Pagi itu Yogik mengonggong, dan bangunlah kucing kucing seperti "luna" dan "beni". Beni? loh kok ada beni..Beni suaminya luna, beni sangat sayang sama luna. Kalo luna laper, beni belikan nasi bungkus untuk luna, dan makan berdua. Kucing kucing lain pada iri dengan luna. Putrapun cemburu dengan beni. Cinta segitiga.
       Barang barang kami sudah siap malam itu, tinggal menunggu bangunya teman teman yang pada asik molor. Jam 5 lewat sedikit kami berangkat, kalau  g salah jam 05: 59 menit 59 detik, lumayan hampir jam 6. Dijalan kami menghabiskan waktu bersama sama mengendarai motor menuju koto baru, tempat pemberentian pendakian yang biasa dilakukan pendaki lain. Menikmati pemandangan yang terlintas dikiri dan kanan kami, bukit bukit yang menjulur tinggi .Jurang jurang yang sangat curam."Asiiiiikkk pokoknya." "awesome"

          Dikoto baru kami sampai sekitar jam 2 (kalo g salah) .Kami berhenti dimesjid didekat koto baru. Perut udah keroncongan, Bergegas kami mencari rumah makan disekitar koto baru. Kami makan ayam gulai dengan lahap,  seakan besok tidak makan enak lagi Dan membeli botol aqua untuk persiapan air minum selama pendakian. Cuaca daerah koto baru begitu dingin dan sejuk, Berbeda dengan pekanbaru yang panas.gersang, kemarau, apa lagii,,,"say to alhamdullilah "
          Setelah perut kenyang, kami segera berangkat ke kaki gunung merapi dengan gagah berani.
Motor motor kami, kami letakan di tower daerah kaki gunung merapi, disana memang tempat penitipan motor para pendaki. Dan selanjutnya kaki kaki kami yang melangkah dengan tegas dan bertenaga. Menikmati alam yang sangat indah dan santai. Berteman dengan alam itu membuat kita lebih dekat dengan diri kita dan orang lain ."itu kata orang orang."
         Jalan awal dan pertamanya masih diaspal, dan rute belum memasuki perhutanan.Pemandangan yang terlintas di tahap awal ini, kita bisa melihat perkebunan sayuran warga dikaki gunung dan hamparan sawah dibawahnya menjular luas .walaupun masih belum memasuki daerah hutanya,  disana nafas kami sudah mulai habis, tapiiiiiiiii dengan semangat yang membara membuat nafas kami semakin habis. "waduuh ".akhirnya Terlihat jelas oleh mata, diatas sana sudah terlihat  posko merapi dan itu tandanya hutan telah hampir kami masuki. "Terasa damai dan tenang."

          Aku pernah membaca supaya pendakian itu tidak terasa capek, nikmatinlah irama kaki itu menaikinya. Jangan terlalu cepat dan terlalu lambat. Nikmati seperti tubuh kita tersentak dengan irama beat. Itu aku praktikan disana, tapi toh aku capek juga. Mungkin cara terbaik mendaki jangan pernah memikirkan rasa capek, karna itu emang capek dan nikmatilah alamnya.
          Rute masih banyak bonusnya, bonus namanya jika jalan masih datar dan belum ada tanjakan. Kami berhenti sejenak, mengisi air kami yang kosong disumber air kaki gunung merapi dan bergegas berangkat kembali mengikuti jalur pendakian. Kerja sama team sangat dibutuhkan saat itu, mata, perasaan, dan keakraban membuat udara dingin itu menjadi hanget terasa."mungkin" . kami bergantian membawa careel, sedikit melangkah lalu istirahat dan bercengkrama bersama teman teman, "aku merindukan itu". Tuhan selalu bersama orang orang yang berani’” tertulis jelas kata kata itu di salah satu pohon disana. "sayang pohonya dipaku "

           Pendakian kami sudah 3 jam lebih dilalui, haripun sudah mulai gelap. Kami terus menapaki jalan gunung merapi, dan terhenti ketika itu benar benar gelap. Disana kami berdiskusikan apakah kami akan ngecamp disini atau terus naik. Lampu-lampu badai kami hidupkan satu per satu, lampu elektrikpun kami punya, sayang genset kami lupa bawa. Teman-teman memilih untuk terus naik,oke akirnya kami naik juga dengan formasi randi straker, allif second striker, ryan gelandang serang, rio gelandangan, fikri sayap kanan, reza sayap kiri, beni bertahan, yogik bertahan, robi bertahan, bang ardi bertahan, dan eed bertahan. Jelas saya tidak mau memiliki bagian paling belakangan, bagian itu berguna sebagai pertahanan posisi dan posisi menakutkan. Formasi itu terus kami pertahankan, satu demi satu langkah kami beralih keatas. Menjaga jarak, dan pandangan. Malam yang indah dan dingin, ditemani sinar lampu badai diterpa angin. Kehangetan kebersamaan mengalahkannya untuk terus melangkah."kata orang "

            Alhamdullilah…hujan mengguyur rintik rintik membasahi badan kami. Kami terhenti ditengah tengah pendakian ini, sudah melewati batas vegetasi yang lumayan jauh. terlihat pohon pohon sudah mulai diselimuti oleh lumut-lumut hijau nan cantik. sungguh dinginya tak terkalahkan, dan kami berencana ngecamp disana. Tapi itu tidak jadi karna tekat yang kuat itu selalu ada dihati kami semua. Keluarlah lintang enam dari saku beni, hangetttttttt,,apanya yang hanget ya, keknya sama aja deh..robby mengeluarkan roti gabin, malam itu kami makan roti  dan istirahat beberapa menit disana sebelum melanjutkan perjalanan.
            Waktu terus berjalan, jam sudah memihak pukul 7 malem lewat, cadaspun belum terlihat. Rasa pasrahpun terus terlintas dibenak kami semua. Tapi kami takkan berhenti, sebelum kami sampai cadas. Hujanpun sudah mulai berhenti, terdengar suara yang membakitkan semangat kami. bintaaaaaaaaaaaang .."teriak allif dengan keras dan lantang "

        Udah terlihat bintang itu bagus, berarti kita sudah mendekati cadas, dan artinya kami akan  keluar dari hutan yang tertutup. Tapi Bintang yang ditunjukan oleh allif terlihat dibawah."nah loh " allliiiif . itu ternyata kota bukit tinggi dengan lampunya yang indah. Sangat indah..hhuuft..aliif emang bisa membangkitkan semangat kami semua. Tidak masalah, walaupun itu bukan bintang, semangat kami kembali bangkit untuk sekian kalinya,sialan alliff.
Langkah kaki terus melangkah seiring denyut nadi memacu irama.
          Terlihat seperti goa dihadapan mata kami, goa dengan diselimuti ilalang ilalang gunung itu bertanda cadas mulai dekat dan itu sangat mengemberikan. Melajulah langkah kaki dan tidak sabar ingin melihat cadas berbatu itu.

cadas...…."dengan nafas terhengah-hengah" akhirnya sampai dicadas sautku"

              Hasrat capek itu hilang sejenak ketika kami sampai dicadas,perjuangan mendaki itu terbayar ketika kami sampai dicadas jam 8 malem lewat. Angin yang dingin, ilalang khas puncak, pemandangan kota bukit tinggi, bintang bintang itu begitu indah. Aku tidak bisa mengambarkan bagaimana hatiku yang begitu bahagia ketika itu. Disana kami berhenti sejenak duduk mengatur nafas yang mulai sesak, kata robby diatas ada tempat yang lebih bagus lagi untuk ngecamp. Pemandangannya lebih terlihat jelas indahnya. Angin gunung terus membelai kami. 

waduuuh diiiiiiinggiiiiiiiiiiiin "

        Camp, akirnya kami ngecamp ditempat kedua cadas ini, tidak begitu jauh naik dari tempat camp pertama. Pikiran pertama adalah membuat tenda, kami cari tas yang berisikan tenda. Tapi kami hanya mempunya terpal besar dan tenda pramuka kecil punya yopi. Hari sudah sangat gelap, kayu untuk tonggak, sulit untuk dicari. Tenda pramukanya begitu kecil. Udara semakin dingin, kami memerlukan istirahat untuk besok pagi kembali mendaki ke puncak. Randi mempunya ide kita tidak usah membuat tenda. Jadi?? Terpal itu sebagai alasnya, dan tenda itu sebagai selimutnya. hmhmhm Mikir panjang, y udah, kami tidur tidak memakai tenda,,beralas terpal dan beratap langit diselimuti tenda pramuka dan apasaja yang bisa dipakai selimut.dinggiiiiin juga .aku punya photonya,mengesankan sekaligus mengganaskan " don't try this
.
            Api unggun sudah mulai membara dan terbakar, udarapun sedikit lumayan hanget, kami mulai memasak mie dan membuat kopi, tidak lupa lintang enam bro.detak jam terus berganti, malampun semakin dingin. Teman teman sudah mulai tertidur, mata sudah terlihat tidak sanggup menahan kantuk. disinilah Mulai tanda perang mencari tahta alas terpal. Mempertahankan posisi supaya tidak ada yang menyelip, saya agak lebih beruntung yang mempunyai badan besar, lebih kuat bertahannya. 
       



    Tidur dicadas tidak bisa pulas, dingin menusuk nusuk tulang kami. Akirnya sebagian dari kami bercengkrama di sekitar api unggun. "Menunggu subuh",,Subuh waktu yang kami janjikan untuk naik ke puncak, supaya dapat melihat sunrise.Putaran jam malam hari berbanding lurus dengan dinginya udara digunung. Waktu subuh itu terasa lama untuk ditunggu
                 Pukul 4 subuh kami berangkat menuju puncak, dengan mengunakan sinar lampu badai.
Jalan dari cadas menuju puncak berbatu batu. Kami harus hati hati melangkah, salah langkah kami bisa tergelincir ke bawah.
kabut..wow..kabut..kabut menutupi jalan kami..
Jarakpun kami dekatkan. Pandangan mata harus terlihat antara teman satu dan lainnya. Kami berangsur angsur menaiki. Batu batu itu sering kali membuat kami terjatuh ditempat. Semua teman saling mengingatin berhati hati.dingiiiiiiiiin……..
               Jam 6 kurang kami berhasil mencapai puncak merapi,,tapi kabut masih menyelimuti kami semua. Jarak pandang sudah tidak jauh.Akhirnya sang surya bangun dari peraduannya, kabut kabut itu seperti membuka pintu keindahan merapi dan sedikit sedikit lenyap dari pandangan kami, kami terdiam menikmatinya. sahduu suasana saat itu"
              Tugu Albert Tasman, Puncak Merpati, Puncak Garuda,Adelweis, Kawah merapi, Hutan Larangan,

Artikel Pejalan Kaki Taat Aturan dari kelompok kecil kaum kusam
Catatan ini kupersembahkan kepadamu, kawanku yg baik, catatan lama setahun yang lalu…
Aku berharap, dalam waktu dekat ini, kita akan mendaki gunung bersama-sama. Semoga.