Merapi
Koto Baru, Merapi
Ini pertualanganku bersama , bang ardi, ogik , eed, allif, ryan, randi, robby, beni, fikri dan reza.
Kami akan berencana menaiki
gunung merapi disumbar sana. Gunung dengan ketinggian 2870 m dibawa permukaan laut
ini sungguh mengoda panoramanya.
Malam itu kami tidur
dikosan latansa, kecuali teman kami yang benama reza. Latansa adalah kosan dengan banyak kamar, terletak diantara bujur timu dan
bujur selatan. Dilatansa, semua jenis manusia ada disana Seperti mengongong,
mengeong, merayap, meraba, melata, merangkak, meloncat dan mundur. Aku lebih
suka merayap aja."Spyderman"
Ditempat itulah kami
semua ngumpul malam itu, menghabiskan bermain domino, bercengkrama, bergelut
ria, bernyanyi, menggongong, mengeong, merayap, dan terbang. cerita habis disini
malam itu.
*
*
Pagi paginya, kami
bersiap berangkat menuju tujuan yang telah disepakati bersama. kami sudah berjanji bangun jam 5 subuh. Tapi biasalah
MAHASISWA.
Pagi itu Yogik mengonggong, dan
bangunlah kucing kucing seperti "luna" dan "beni". Beni? loh kok ada beni..Beni
suaminya luna, beni sangat sayang sama luna. Kalo luna laper, beni belikan nasi
bungkus untuk luna, dan makan berdua. Kucing kucing lain pada iri dengan luna.
Putrapun cemburu dengan beni. Cinta segitiga.
Barang barang kami
sudah siap malam itu, tinggal menunggu bangunya teman teman yang pada asik
molor. Jam 5 lewat sedikit kami berangkat, kalau g salah jam 05: 59 menit 59 detik, lumayan
hampir jam 6. Dijalan kami menghabiskan waktu bersama sama mengendarai motor
menuju koto baru, tempat pemberentian pendakian yang biasa dilakukan pendaki lain. Menikmati pemandangan yang
terlintas dikiri dan kanan kami, bukit bukit yang menjulur tinggi .Jurang
jurang yang sangat curam."Asiiiiikkk pokoknya." "awesome"
Dikoto baru kami sampai
sekitar jam 2 (kalo g salah) .Kami berhenti dimesjid didekat koto baru. Perut
udah keroncongan, Bergegas kami mencari rumah makan disekitar koto baru. Kami
makan ayam gulai dengan lahap, seakan
besok tidak makan enak lagi Dan membeli botol aqua untuk persiapan air minum
selama pendakian. Cuaca daerah koto baru begitu dingin dan sejuk, Berbeda dengan
pekanbaru yang panas.gersang, kemarau, apa lagii,,,"say to alhamdullilah "
Setelah perut kenyang,
kami segera berangkat ke kaki gunung merapi dengan gagah berani.
Motor motor kami, kami
letakan di tower daerah kaki gunung merapi, disana memang tempat penitipan motor para pendaki. Dan selanjutnya kaki
kaki kami yang melangkah dengan tegas dan bertenaga. Menikmati alam yang sangat
indah dan santai. Berteman dengan alam itu membuat kita lebih dekat dengan diri kita dan
orang lain ."itu kata orang orang."
Jalan awal dan pertamanya masih
diaspal, dan rute belum memasuki perhutanan.Pemandangan yang terlintas di tahap awal ini, kita bisa melihat perkebunan sayuran warga dikaki gunung dan hamparan sawah dibawahnya menjular luas .walaupun masih belum memasuki daerah hutanya, disana nafas kami sudah mulai habis,
tapiiiiiiiii dengan semangat yang membara membuat nafas kami semakin habis. "waduuh ". akhirnya Terlihat jelas oleh
mata, diatas sana sudah terlihat posko merapi dan itu tandanya hutan telah hampir kami masuki. "Terasa
damai dan tenang."
Aku pernah membaca
supaya pendakian itu tidak terasa capek, nikmatinlah irama kaki itu menaikinya.
Jangan terlalu cepat dan terlalu lambat. Nikmati seperti tubuh kita tersentak
dengan irama beat. Itu aku praktikan disana, tapi toh aku capek juga. Mungkin
cara terbaik mendaki jangan pernah memikirkan rasa capek, karna itu emang capek
dan nikmatilah alamnya.
Rute masih banyak
bonusnya, bonus namanya jika jalan masih datar dan belum ada tanjakan. Kami berhenti sejenak,
mengisi air kami yang kosong disumber air kaki gunung merapi dan bergegas
berangkat kembali mengikuti jalur pendakian. Kerja sama team sangat dibutuhkan saat itu, mata,
perasaan, dan keakraban membuat udara dingin itu menjadi hanget terasa."mungkin" . kami bergantian membawa careel, sedikit melangkah lalu istirahat dan bercengkrama bersama teman teman, "aku merindukan
itu". Tuhan selalu bersama orang orang yang berani’” tertulis jelas kata kata
itu di salah satu pohon disana. "sayang pohonya dipaku "
Pendakian kami sudah 3
jam lebih dilalui, haripun sudah mulai gelap. Kami terus menapaki jalan gunung merapi,
dan terhenti ketika itu benar benar gelap. Disana kami berdiskusikan apakah
kami akan ngecamp disini atau terus naik. Lampu-lampu badai kami hidupkan satu
per satu, lampu elektrikpun kami punya, sayang genset kami lupa bawa. Teman-teman
memilih untuk terus naik,oke akirnya kami naik juga dengan formasi randi
straker, allif second striker, ryan gelandang serang, rio gelandangan, fikri sayap kanan,
reza sayap kiri, beni bertahan, yogik bertahan, robi bertahan, bang ardi bertahan,
dan eed bertahan. Jelas saya tidak mau memiliki bagian paling belakangan, bagian
itu berguna sebagai pertahanan posisi dan posisi menakutkan. Formasi itu terus
kami pertahankan, satu demi satu langkah kami beralih keatas. Menjaga jarak,
dan pandangan. Malam yang indah dan dingin, ditemani sinar lampu badai diterpa
angin. Kehangetan kebersamaan mengalahkannya untuk terus melangkah."kata orang "
Alhamdullilah…hujan mengguyur rintik rintik membasahi badan kami. Kami terhenti ditengah
tengah pendakian ini, sudah melewati batas vegetasi yang lumayan jauh. terlihat pohon pohon sudah mulai diselimuti oleh lumut-lumut hijau nan cantik. sungguh dinginya
tak terkalahkan, dan kami berencana ngecamp disana. Tapi itu tidak jadi karna
tekat yang kuat itu selalu ada dihati kami semua. Keluarlah lintang enam dari saku beni,
hangetttttttt,,apanya yang hanget ya, keknya sama aja deh..robby mengeluarkan roti gabin, malam itu kami makan roti dan
istirahat beberapa menit disana sebelum melanjutkan perjalanan.
Waktu terus berjalan,
jam sudah memihak pukul 7 malem lewat, cadaspun belum terlihat. Rasa pasrahpun
terus terlintas dibenak kami semua. Tapi kami takkan berhenti, sebelum kami
sampai cadas. Hujanpun sudah mulai berhenti, terdengar suara yang membakitkan
semangat kami. bintaaaaaaaaaaaang .."teriak allif dengan keras dan lantang "
Udah terlihat bintang
itu bagus, berarti kita sudah mendekati cadas, dan artinya kami akan keluar
dari hutan yang tertutup. Tapi Bintang yang ditunjukan oleh allif terlihat
dibawah."nah loh " allliiiif . itu ternyata kota bukit tinggi dengan lampunya yang indah. Sangat
indah..hhuuft..aliif emang bisa membangkitkan semangat kami semua. Tidak masalah,
walaupun itu bukan bintang, semangat kami kembali bangkit untuk sekian kalinya,sialan
alliff.
Langkah kaki terus
melangkah seiring denyut nadi memacu irama.
Terlihat seperti goa
dihadapan mata kami, goa dengan diselimuti ilalang ilalang gunung itu bertanda
cadas mulai dekat dan itu sangat mengemberikan. Melajulah langkah kaki dan tidak
sabar ingin melihat cadas berbatu itu.
cadas...…."dengan nafas terhengah-hengah" akhirnya sampai dicadas sautku"
Hasrat capek itu hilang
sejenak ketika kami sampai dicadas,perjuangan mendaki itu terbayar ketika kami
sampai dicadas jam 8 malem lewat. Angin yang dingin, ilalang khas puncak,
pemandangan kota bukit tinggi, bintang bintang itu begitu indah. Aku tidak bisa
mengambarkan bagaimana hatiku yang begitu bahagia ketika itu. Disana kami berhenti
sejenak duduk mengatur nafas yang mulai sesak, kata robby diatas ada tempat yang lebih bagus lagi untuk ngecamp. Pemandangannya
lebih terlihat jelas indahnya. Angin gunung terus membelai kami.
waduuuh diiiiiiinggiiiiiiiiiiiin "
waduuuh diiiiiiinggiiiiiiiiiiiin "
Camp, akirnya kami
ngecamp ditempat kedua cadas ini, tidak begitu jauh naik dari tempat camp
pertama. Pikiran pertama adalah
membuat tenda, kami cari tas yang berisikan tenda. Tapi kami hanya mempunya
terpal besar dan tenda pramuka kecil punya yopi. Hari sudah sangat gelap, kayu
untuk tonggak, sulit untuk dicari. Tenda pramukanya begitu kecil. Udara semakin
dingin, kami memerlukan istirahat untuk besok pagi kembali mendaki ke puncak. Randi
mempunya ide kita tidak usah membuat tenda. Jadi?? Terpal itu sebagai alasnya,
dan tenda itu sebagai selimutnya. hmhmhm Mikir panjang, y udah, kami tidur tidak
memakai tenda,,beralas terpal dan beratap langit diselimuti tenda pramuka dan
apasaja yang bisa dipakai selimut.dinggiiiiin juga .aku punya photonya,mengesankan sekaligus mengganaskan " don't try this
.
Api unggun sudah
mulai membara dan terbakar, udarapun sedikit lumayan hanget, kami mulai memasak mie dan membuat kopi, tidak lupa
lintang enam bro.detak jam terus berganti, malampun semakin dingin. Teman teman sudah
mulai tertidur, mata sudah terlihat tidak sanggup menahan kantuk. disinilah Mulai tanda perang mencari tahta alas terpal. Mempertahankan
posisi supaya tidak ada yang menyelip, saya agak lebih beruntung yang mempunyai badan besar,
lebih kuat bertahannya.
Tidur dicadas tidak bisa pulas, dingin menusuk nusuk tulang kami. Akirnya sebagian dari kami bercengkrama di sekitar api unggun. "Menunggu subuh",,Subuh waktu yang kami janjikan untuk naik ke puncak, supaya dapat melihat sunrise.
Pukul 4 subuh kami
berangkat menuju puncak, dengan mengunakan sinar lampu badai.
Jalan dari cadas menuju
puncak berbatu batu. Kami harus hati hati melangkah, salah langkah kami bisa
tergelincir ke bawah.
kabut..wow..kabut..kabut
menutupi jalan kami..
Jarakpun kami dekatkan.
Pandangan mata harus terlihat antara teman satu dan lainnya. Kami berangsur
angsur menaiki. Batu batu itu sering kali membuat kami terjatuh ditempat. Semua
teman saling mengingatin berhati hati.dingiiiiiiiiin……..
Jam 6 kurang kami
berhasil mencapai puncak merapi,,tapi kabut masih menyelimuti kami semua. Jarak
pandang sudah tidak jauh.Akhirnya sang surya
bangun dari peraduannya, kabut kabut itu seperti membuka pintu keindahan merapi
dan sedikit sedikit lenyap dari pandangan kami, kami terdiam menikmatinya. sahduu suasana saat itu"
Tugu Albert Tasman,
Puncak Merpati, Puncak Garuda,Adelweis, Kawah merapi, Hutan Larangan,
Artikel Pejalan Kaki Taat Aturan dari kelompok kecil kaum kusam
Catatan
ini kupersembahkan kepadamu, kawanku yg baik, catatan lama setahun yang lalu…
Aku berharap, dalam waktu dekat ini, kita akan mendaki gunung bersama-sama. Semoga.
Aku berharap, dalam waktu dekat ini, kita akan mendaki gunung bersama-sama. Semoga.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home