Tuesday, June 23, 2020

AKU DAN KORANKU

                  Sore itu hujan turun rintik-rintik membasahi jalanan kota. dengan lugas jalan ini mulai terbasahi oleh rintikan hujan, aroma hujan membasahi jalan terasa sangat khas. bukan harum dan bukan juga bau tapi aroma khas hujan diawal turunya. banyak yang bilang ini petricor namanya.

                  baiklah, sebaiknya aku perkenalkan namaku, namaku budi, aku seorang penjual koran dijalanan kota ini. kalau anda sering melihat anak kecil menjualkan korannya di simpang lampu merah, itu bagian dari aku. setiap sore aku berjalan dari rumah sehabis pulang sekolah menjual koran di simpang lampu merah kota. sebaiknya anda menyisahkan uang untuk membeli koran kami, 1 koran terjual sangat berarti bagi kehidupan kami, di kalangan penjualan koran kita mempunyai target yang harus tercapai dalam sehari. kalau aku  ingin terpakai terus, koran yang dijualkan harus cepat habis dan uang setoran lancar lancar .

                 Ntah kenapa hari ini hujan rintik rintik terasa awet sekali menghiasi kota ini, dari awal pagi mentari mulai menyinari sampai sore ini masih saja rintik rintik hujan masih turun dengan sangat lambatnya. tapi aku bersyukur hanya hujan rintik rintik, jadi aku masih bisa berjualan koran di simpang kota ini.

                 sehabis pulang sekolah biasanya aku membantu ibuku dirumah, seperti anak anak biasanya aku membantu ibuku membersihkan rumah dan bermain dengan adikku yang masih berusia 3 tahun. sekitar jam 4 sore aku mulai bergegas dan mempersiapkan barang jualan koranku. setiap hari aku lakukan seperti itu tanpa ada hari hari yang berbeda.  sebagian orang ini hal yang sangat membosankan tapi bagiku ini hal yang nikmat aku jalani dan aku menghargai pekerjaanku sebaggai penjual koran walaupun seharusnya anak anak seumuranku tidak selayaknya menjual koran.

               aku bergegas ke rumah pak jarwo untuk mengambil koran , pak jarwo adalah ketua penjual koran dikotaku. dia juga yang nantinya mengambil dari hasil jualanku dan dibagikan beberapa persen untukku. untung kami sedikit dalam satu hari, tapi bagaimana lagi, kalau aku tidak berjualan, aku tidak mempunyai uang saku untuk kebutuhan sekolahku dan kebutuhan adik adikku jika adiku pingin membeli sebuah permen.

                   sore itu hujan masih rintik rintik, rintiknya itu bisa dibilang hampir lebat. . saat aku berdiri lama didepan rumah sebelum berangkat bekerja, bajuku sudah mulai basah lumayan banyak. untungnya aku mempunyai payung yang aku bawah dari rumah. hanya saja ketika aku kerumah pak jarwo aku berlari kencang sekali mengejar waktu untuk mengambil tempat pangkalan jualan disimpang lampu merah. jika aku terlambat, aku pindah ketempat lain.

ntah kenapa perutku lapar sore itu, aku melihat ada jajanan bakso tusuk disebrang jalanan simpang lampu merah. perut yang tak tertahan ini membuat hasratku ingin membelinya, ku letakkan koranku di dekat tumpukan kardus dipinggir jalan ini. lalu aku menyebrang ke tempat abang penjual bakso itu, baksonya sangat lezat , tercium aroma baksonya sampai kesebrang jalan di tempat aku berdiri. haruum.ku tarik panjang nafasku menikmati harumnya.

                      bang beli bakso tusuk, sautku dengan buru buru. aku tidak mau berlama lama di sini. waktu sangat berarti bagiku untuk menjual koran, bayangkan saja satu menit kita bisa menjual 1 koran. 1 menit itu di setiap mobil atau motor yang berhenti kemungkinan ada yang membeli 1 koran. . makanya saya tidak mau membuang waktu saya lama lama di sini. saat aku lagi asik makan bakso dan melihat kiri kanan untuk menyebrang jalan. aku melihat koranku hilang ntah dimana. aku kaget setangah mati. terdiam sesaat melihat kejadian ini. ,Mampus aku.  kalau hilang bagaimana aku menggantinya. dalam pikirnaku mulai kacau. aku lari kesebrang jalan, mobil dan motor tiba tiba tidak ada yang lewat, jalanan itu tiba tiba sepi tanpa kendaraan. kalau saja aku tak sanggup menggantinya, aku bakalan di pecat sebagai penjual koran dan pastinya akan ada pengganti yang baru di simpang lampu merah kota ini. waduuuuuh ..

                     dari kejahuan aku melihat pickup pengambil sampah, aku melihat kardus disamping koranku tadi juga tidak ada. ada kemungkinan koranku itu dibawah oleh pickup pengangkut sampah itu. aku mulai menajamkan mataku. tanpa ragu ragu aku mulai mengejarnya dengan sekuat tenagaku. untungnya aku dulu pernah menjadi juara lari dikelas ketika aku SD. aku berlari sambil berteriak dengan keras, tapi supir mobil pickup itu tak mendengarnya.. aku terus berlari.